Tips Menjadi Guru Millenial Di Era Digital

Pernakah bapak ibu merasa mendidik anak saat ini berbeda dengan mendidik anak yang mempunyai tahun kelahiran 1980 sampai dengan 2000? ya pasti semua guru merasakan perbedaan tersebut. mendidik anak generasi 80 an sampai dengan 90 an akan merasakan nikmatnya menjadi seorang guru, karena pada saat itu anak-anak masih sangat hormat dan menghargai seorang guru. mereka masih sangat mudah untuk dibentuk karakternya dengan nasehat, dengan arahan dari seorang guru sehingga mempunyai karakter yang baik.
namun mendidik anak sekarang atau yang dikatakan sebagai generasi millenial akan sangat berbeda dengan generasi 80 an dan 90 an, karakter mereka terbentuk dari era digital yang menjauhkan norma sosial serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar. mereka seakan tidak peduli apa yang terjadi di sekitar mereka, mereka asik dengan teknologi yang mereka punya.
Oleh sebab itu dibutukan cara untuk mendidik anak millenial ini supaya tidak terjadi degradasi moral dari bangsa ini. berikut ini adalah tips-tips menjadi guru millenial di era digital yang perlu anda ketahui: 

1    1. Memahami Karakteristik Generasi Millenial

Karakteristik yang paling menonjol dari siswa generasi millenial adalah kemampuannya untuk mengakses informasi dalam jumlah yang nyaris tak terbatas. Hal tersebut salah satunya ditunjang oleh pengoperasian komputer maupun gadget yang tersambung dengan jaringan internet. Saat ini sudah bukan zamannya lagi guru menjadi narasumber utama. Mesin pencari digital terbukti mampu menyediakan beribu-ribu bahan ajar yang lebih bervariasi dari segi tampilan dan kualitasnya. Dengan begitu, siswa lebih berpotensi memiliki wawasan global yang tak dapat dibendung, dan mampu mendapatkannya secara mandiri.Untuk menjalankan fungsi guru yang ideal di era digital citizenship, tentu saja para guru harus terlebih dahulu melek teknologi.

2. Guru Harus Mempunyai Gaya Komunikasi Yang Baik Dengan Siswanya

Menghadapi generasi millennial saat ini tentu dibutuhkan sebuah kemampuan komunikasi yang baik dari seorang guru. Bayangkan kalau guru tidak memiliki gaya komunikasi yang baik pada saat pembelajaran, akankah peserta didik mudah menangkap pesan yang disampaikan guru. mereka terbiasa mendengar dan melihat dari era gadget, era dunia dengan tampilan yang sangat menarik dan banyak pilihan mereka dapatkan. Oleh karena itu sebagai seorang guru harus mempunyai gaya komunikasi yang baik dengan siswa sehingga guru tidak kalah dengan yang mereka dapatkan di dunia maya

3. Guru Harus Bisa Sebagai Teman Diskusi dari Siswa

Pernahkah anda semasa sekolah memiliki guru yang saat datang melangkahkan kaki ke kelas, kompak satu kelas tersebut terdiam dari awal sampai akhir mata pelajaran? Karena takut dengan gurunya yang super galak. Di era milenial saat ini akan kurang cocok untuk diterapkan. Lain halnya dengan guru tegas dan mendidik. Di era milenial, anak milenial lebih cocok dengan pendekatan "diplomasi" ketimbang "anarki". Guru milenial ternyata dituntut untuk menjadi teman berdiskusi sesuai profesi kependidikan. Murid milenial lebih senang dan menyerap pelajaran dengan baik, apabila penyampaian guru yang lebih seperti teman saat berdiskusi biasa. Tentunya dengan batasan antara murid dan guru. Guru yang menyenangkan, tidak membosankan, mengikuti tren murid, cara penyampaian yang "smart", sikap yang baik, jujur dan tidak plin-plan adalah tipe guru yang disenangi. Istilahnya "friendly". Bukan guru yang membuat bulu kuduk berdiri dan "anarkis". Ini semua tergantung dari cara penyampaian guru dan tentu saja perilaku guru. Perilaku guru yang baik (tidak dibuat-buat), akan lebih mendapatkan "respect" yang baik pula. Sebaliknya guru yang tidak dihormati, anak didik akan enggan belajar atau memahami pelajarannya dengan baik.

4. Guru Harus Mempunyai Penampilan Yang Fashionable

Agar sukses menjadi guru di zaman milenial, beberapa hal yang dapat dilakukan; Pertama Mode On. Guru adalah public figure. Penampilan menjadi sebuah kebutuhan penting dalam karir keguruan di zaman ini. Kalau guru datang ke sekolah dengan panampilan urakan, rambut gondrong, dan celana jeans, akankah peserta didik merasa nyaman dalam belajar. Saat ini mereka hidup di era serba fashionable, sehingga tampilan guru akan sangat mempengaruhi semangat mereka.

5. Guru Harus Menguasai Teknologi

Dewasa ini sudah banyak sekolah yang menerapkan teknologi dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Baik itu kegiatan belajar secara tatap muka langsung maupun secara online. Konsekuensi logis dari penerapan model belajar seperti ini adalah guru harus mengikuti dan mengusai perkembangan teknologi saat ini. pembelarajan saat ini baru trend dengan yang namanya belajar jarak jauh, maka sebagai seorang guru millennial di era digital seorang guru harus bisa membuat konten materi pembelajaran secara online. Setelah bisa membuat konten maka seorang guru harus dapat mengelola sebuah aplikasi pembelajaran secara online mulai dari perencaan, pelaksanaan sampai pada pengolahan nilai  dan evaluasi pembelaranya.

6. Guru Harus Mempunyai Media Sosial

Menjadi seorang guru milenial harus memiliki smartphone, laptop, memiliki akun media sosial seperti (Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, Line, Pinterest, dll), dan memiliki pengetahuan tentang IT yang baik. Hal tersebut harus dimiliki dengan tujuan untuk mempermudah dan menunjung pekerjaan guru. Misalnya guru harus memiliki smartphone tujuannya mempermudah komunikasi antara orang tua, siswa dan guru. Laptop juga dapat menunjang, mempermudah dan dapat mempercepat pekerjaan guru, jadi guru harus mampu mengoperasikan laptop dengan baik dan benar. Media sosial harus dimiliki guru supaya tidak ketinggalan informasi yang terkini, dan untuk memperbanyak relasi. Selain itu guru juga harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan dibidang IT yang baik. Guru tidak boleh gagap teknologi (gaptek) karena hal itu dapat menghambat kegiatan belajar mengajar di kelas.

7. Guru Harus Bisa Menjadi Motivator Bagi Siswanya

Apakah kehadiran komputer dan internet sudah otomatis meningkatkan hasrat siswa untuk belajar? Jawabannya: tidak! Tanpa kehadiran guru yang kreatif dan inovatif, kehadiran internet dan komputer tidak akan berarti apa-apa bagi proses pembelajaran. Sebaliknya, dengan kreatifitas dan inovasi guru yang baik, kedua hal tersebut dapat menjadi bahan yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.
Untuk , mulailah untuk memotivasi siswa agar lebih kreatif dan inovatif dalam menggunakan teknologi untuk proses pembelajaran. Caranya, tentu saja dengan menjadi role model bagi siswa. Buatlah kegiatan belajar yang menarik menggunakan teknologi, seperti pembuatan PR berbasis teknologi, project kelompok berbasis teknologi, dan diskusi kelas berbasis teknologi.
Jangan ragu untuk membuat terobosan-terobosan sekecil apapun. Selama hal tersebut mampu membuat siswa bersemangat dan semakin terangsang untuk belajar, maka lakukanlah!

8. Guru Harus Menjadi Navigator Bagi Siswanya

Internet adalah belantara informasi yang teramat luas. Kebebasan tanpa batas yang dimiliki siswa pada gilirannya dapat berbalik menyesatkan siswa. Alhasil, bukan tidak mungkin siswa tersesat pada konten-konten internet yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran, atau bahkan tersesat pada konten negatif. Dalam kasus ini, guru memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan siswa dalam pencarian informasi yang efektif.
Dalam penggunaan teknologi yang efektif dan efisien, guru berperan untuk menjadi navigator utama. Pengarahan disesuaikan dengan tujuan atau target belajar yang ingin dicapai. Guru merupakan subjek yang paling paham dengan kondisi kelas dan kondisi masing-masing individu siswa. Oleh karena itu, guru jugalah yang paling paham pengarahan seperti apa yang cocok diterapkan di dalam proses pembelajaran berbasis teknologi di kelasnya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Mata Pelajaran Teknologi Layanan Jaringan

Konfigurasi Samba Server dengan Debian 8.6